Ujian Kesetian

Sebenarnya judulnya kurang spesifik, harusnya saya buat menjadi "Ujian Kesetian Sebagai Seorang Penggemar Berat Manchester United", tetapi saya buat begini karena saya orang yang simple =P
Hahaha nevermind....

Well bisa dikatakan ini sebagai curhatan, tapi curhatan yang panjang yang mungkin lebih cocok disebut review serta analisis (ah bodo amat), kali ini saya nulis tentang bagaimana gambaran perasaan diri saya yang meratapi nasib tim kesayangan saya Manchester United, yang sedang mengalami masa-masa berat transisi untuk pertama kalinya bagi saya, karena saya mulai menjadi penggemar Manchester United sekitar tahun 97/98 mungkin, yang jelas karena ada beberapa faktor. Pada waktu itu yang umur saya bisa dikatakan masih anak-anak (kelahiran 1990) sangat mengidolai sosok David Beckham hehe. Tapi saya jauh mendengar nama Beckham membumi dibanding nama klub ini. Saya mulai mendengar sosok Becks saat dirinya mulai dikenal dunia  karena gol dari tengah lapangannya (fans Manchester United pasti tau), yang mana saya terus mengikuti sosok Becks hingga akhirnya saya pun mengikuti dan mulai menjadi seorang penggemar Manchester United. Memang waktu itu saya masih anak-anak, dan mungkin saat itu perasaannya mungkin hanya sekedar suka biasa, tapi seiring bertambahnya umur, saya tambah cinta Manchester United dari hari ke hari, tahun ke tahun bahkan sampe saya mati nantipun saya akan tetap menjadi seorang penggemar Manchester United hehe. Baiklah, cukup sampe sini saja review soal awal mula saya menjadi penggemar Manchester United.

Mengingat kembali lebih dalam sosok lelaki tua yang telah lama mengabdi untuk klub yang saya dukung ini, ya Sir Alex Ferguson. Ia adalah Legenda bagi klub ini, terlepas dari rekor-rekornya bersama United, sosok beliau yang sudah sangat melekat dengan United seperti menjadi sesuatu yang tak terpisahkan. Dan ya akhirnya datang saat perpisahan dengan beliau, saat-saat terakhir bersama beliau yang mengakhiri masa baktinya sekaligus pensiun dari sebagai manager dengan mempersembahkan trofi Premier League Ke-13 atau ke-20 secara keseluruhan di divisi paling atas bagi United. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi, selain faktor umur dan kesehatan, tentunya memang sudah saatnya regenerasi terjadi, karena di dunia ini tidak ada yang kekal. Pun sama halnya dalam membangun tim, diperlukannya regenerasi dalam skuat, banyak pemain bahkan pemain bintang & kunci yang datang dan pergi, tetapi Manchester United tetaplah Manchester United, sebuah klub yang melahirkan dan mengorbitkan bintang-bintang berbakat. 

Sebelum membahas manager baru, saya ingin memberikan sedikit review tentang generasi-generasi yang dibangun oleh Opa (sebutan United fan untuk SAF). Dari Jaman Bryan Robson, Eric Cantona, David Beckham hingga Cristiano Ronaldo, Manchester United memiliki ikonnya dengan pemain bernomor punggung 7 dari generasi yang berbeda-beda, tetapi saat ini (musim 2013/14) nomor punggung keramat ini belum menemukan pemilik barunya setelah sosok Michael Owen dan Antonio Valencia yang terakhir kali mengenakan nomor keramat ini sebelum akhirnya kembali ke nomor asalnya 25 di awal musim ini karena tekanan dan beban berat yang harus dipikul, bagaimana tidak bila kita melihat sosok terdahulunya yang sangat-sangat fenomenal. Lanjutkan ke bagian regenerasi pemain, saat dimana Opa pensiun, beliau meninggalkan manager baru dengan skuat juara yang berisikan pemain-pemain bintang, yang terdiri dari pemain-pemain senior, matang dan junior, betapa beruntungnya manager yang baru bukan? tetapi kenyataannya tidak berjalan sesuai expetasi dari kebanyakan fans United, yang mungkin mengira United tetap akan bersaing dalam perebutan juara di awal musim ini. Tentu saja di saat tim-tim lain bertambah kuat dengan menambah pemain-pemain baru berkelas di skuatnya, United juga tak tertinggal membeli beberapa pemain baru, tetapi banyak yang menganggap pembelian pemain baru kali ini hanya sebagai kambing hitam atas gagalnya buruan-buruan utama yang memilih hijrah atau stay di klub lamanya, mungkin faktor Opa yang pensiun sedikit banyak memberi pengaruh kepada daya tarik pemain luar untuk bergabung terlepas dari sejarah besar dan panjang klub ini.

Setiap pemain memiliki masa emas masing-masing, dan sebagian pemain dalam skuat yang ditinggalkan Opa berada di masa-masa akhir karirnya, sebut saja beberapa pemain kunci yang kerap kali menjadi andalan dan tumpuan bagi United rseperti sosok Vidic Ferdinand dan Evra di sektor pertahanan, kemudian Carrick di lini tengah yang perannya benar-benar tak tergantikan oleh pemain tengah United lainnya (nanti akan kita bahas lebih lanjut pengaruh Carrick di lini tengah United), dan sosok RvP yang di masa Emasnya dan sudah berkepala 3 tahun ini (cmiiw). Pentingnya regenerasi terjadi dalam skuat, tetapi jg perlu diingat dalam menjaga kedalaman skuat demi menjaga keseimbangan skuat menjadi faktor yang sangat vital bagi tim manapun dalam mengarungi musim di liga domestik dan beberapa turnamen lainnya, karena setiap pemain memiliki resiko cedera yang tidak tau kapan dan apa yang bakal didapat nantinya, jadi diperlukan pelapis yang sepadan. Nah hal ini yang menjadi faktor utama yang menggambarkan bagaimana inkonsistennya performa United sejauh ini. Bila musim lalupun beberapa pemain utama cedera, tapi entah bagaimana sosok Opa bisa membangun mental dan memotivasi pemain untuk tetap tampil optimal meski kadang kala bermain sangat jelek tapi mampu keluar sebagai pemenang. Lihat saja musim lalu United begitu dijuluki sebagai King of Comeback, sering bermain cenderung biasa-biasa saja dan cenderung membosankan, mungkin karena faktor filosopi permain yang sudah judul (imo) dengan menggunakan 2 winger serta 2 striker dipola 4-4-2. Mungkin saja karena faktor pemain yang ada memaksa Opa yang saat itu akan memasuki masa pensiunnya hanya mencari kemenangan dibanding membangun ulang gaya dan pola bermain yang pastinya akan sangat mengurangi peluang juara, karena diperlukannya kesepahaman baru akan pola yang baru pula tentunya antar pemain, yang pastinya adaptasi takkan terjadi dalam waktu singkat. Well, saya takkan membahas lebih jauh tentang filosofi dan pola bermain tim ini, mungkin dilain kesempatan saja.

Sebagian besar fans United pasti merindukan United yang bermain dengan pola dan filosofi bermain cepat, dan efisien. Kita lihat saja di era sebelumnya, dimana di musim 07/08 United sempat merajai eropa dan dunia memiliki kiper kelas dunia pd sosok Van der Sar, Ferdi dan Vidic di masa jayanya, Carrick dan Scholes di lini tengah yang tak tergantikan, dan di depan ada trio maut Cristiano Ronaldo, Rooney dan Tevez yang sangat produktif. Dan sosok paling krisis saat ini adalah lini tengah dari United, bila dulu ada sosok Scholes yang kita semua sudah tau kualitasnya dengan didampingi Carrick membuat lini tengah United kokoh. Tapi sekarang hanya tinggal sosok Carrick yang tersisa di lini tengah yang sanggup mengemban tugas berat akan perannya sepeninggal Scholes yang pensiun akhir musim lalu. Dan ya akhirnya tiba dimana yang namanya cedera memaksa sosok seorang Carrick yang menjadi Jendral lini tengah United beberapa musim terakhir dan tak tergantikan. Pemain pelapis ataupun yang lainnya tidak ada yang mampu beratnya tugas mendistribusikan bola dan bertahan bagusnya sebaik Carrick, mungkin hanya sosok Giggs dan Rooney yang sedikit mendekati dari visi bermain Carrick, tetapi Giggsy sudah berkepala 4 dan tak bisa dipaksa bermain terus menerus dan juga kemampuan bertahannya tidak sebaik Carrick, kemudian Rooney yang bisa digolongkan pemain komplit, tetapi enggan dimainkan di posisi yang ideal baginya, inilah yang mengorbankan produktivitas Rooney sebagai seorang predator di depan gawang dan pada akhirnya si pemain sendiri tidak bermain optimal dan frustasi yang membuatnya 'ngambek' dan sempat diisukan ingin minta dijual akhir musim lalu. Rooney yang merasa sedang berada di masa emasnya, ingin tetap bermain sebagai seorang striker dan menambah produktivitasnya, dan tak ingin dikorbankan sebagai mana dia dulu sering menjadi pelayan bagi goal-getter United saat jaman Ronaldo dan Berbatov. Begitulah Resiko sebagai pemain versatile, jarang bisa konsisten saat bermain diposisi naturalnya karena harus sering mengasah dan membagi peran demi peran yang berbeda. 

Kembali ke lini tengah United, dimana saat Jendela Transfer musim panas di awal musim United diisukan akan mendaratkan pemain top di lini tengah untuk menambal kurangnya kretifitas sepeninggal sosok Scholes yang pensiun. Mulai dari Thiago Alcantara yang bermain gemilang di Euro U-21 dengan membawa timnas Spanyol U-21 keluar sebagai juara, yang akhirnya justru gagal dan berlabuh ke jawara Eropa musim lalu, Bayern Munich. Toh juga sejak awal United ataupun Moyes tak pernah mengatakan secara langsung tertarik atau sosok Thiago bukanlah jawaban dari yang dicari lini tengah United oleh Moyes tetapi hanyalah rumor yang mungkin dibuat oknum atau agen dan dibesar-besarkan oleh media-media. Tak lama setelah resminya Thiago bergabung dengan jawara BundesLiga tersebut yang mana membuat, saat United sedang menjalani pre-season ke berbagai negara di asia, Moyes pada akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi tentang siapa target buruan utamanya, ialah sosok Cesc Fabregas yang dirasa Moyes sebagai jawaban dari berbagai pertanyaan yang datang. Tetapi pun pada akhirnya perjuangan United untuk mendapatkan tandatangan mantan kapten Arsenal itupun harus kandas setelah mengalami tiga kali penolakan dari kubu Barcelona yang enggan dan telah kecolongan Thiago lebih dulu, serta Fabregas sendiri yang menyatakan bahwa dirinya merasa bahagia dan betah bermain untuk tim impian sejak masa kecilnya, Barcelona. Di jelang penutupan bursa transfer musim panas lalu, Madrid sempat menawarkan sosok Mesut Ozil kepada Manchester United, namun apadaya, ternyata Moyes tidak tertarik karena Ozil bukanlah pemain yang dicari, mungkin jika menilik posisi Ozil yang berperan sebagai pemain no. 10 di lapangan, di United sendiri sudah memiliki Rooney yang sudah biasa menempati posisi tersebut dan juga Shinji Kagawa yang belum mencapai peak performance seperti saat membela raksasa Bundes Liga Borussia Dortmund. Pada detik-detik akhir menjelang penutupan, akhirnya United membeli Marouane Fellaini yang merupakan mantan anak didik Moyes saat di Everton, dan banyak yang mengganggap pembelian pemain berambut kribo tersebut hanya untuk menutupi malu atau 'panic buying' karena United gagal mendapatkan buruan utamanya.

Sejauh musim ini berjalan hingga pekan ke-15 Barclays Premier League, United masih terseok-seok dan berkutat di papan tengah setelah sebelumnya sempat merangsek ke posisi 5 setelah mengalahkan favorit juara Arsenal yang kini kokoh memimpin klasemen di Old Trafford dan berpeluang naik ke posisi 4 bila menang di Matchday berikutnya, tetapi karena absennya sejumlah pemain kunci seperti RvP, Carrick dan Vidic yang cedera setalah match melawan Arsenal, United seperti kembali kehilangan sentuhannya dan kembali tampil inkonsisten. Terbukti 4 match setelahnya United bermain imbang melawan Tottenham dan Cardiff serta kalah beruntun di kandang oleh Everton serta yang terakhir Newcastle, padahal dua nama terakhir memiliki rekor jelek bila bertandang ke Old Trafford. Saat sosok seperti RvP dan Vidic absen, pemain lain seperti Rooney dan Jones atau Evans sanggup menggantikan peran mereka, tapi tak ada sosok pengganti yang tepat saat Carrick absen. Giggs tak bisa dipaksakan bermain penuh dan tak bisa mengemban tugas secara optimal seperti Carrick yang perannya amat sangat vital bagi tim. Cleverley yang digandang-gadang sebagai pengganti Scholespun kerap tampil inkonsisten pasca cedera panjang yang didapat awal musim 2011/2012. Begitupula sosok Anderson yang sudah cukup lama berada dalam skuat namun tak banyak berkembang dan jarang tampil sebagai starter. Tidak juga Fellaini yang belum menunjukkan jawaban atas layaknya dia ditebus dengan mahar yang cukup mahal di Everton saat dimainkan oleh Moyes.

United membutuhkan pemain baru, terutama lini tengah mereka. Mereka harus mencari pendamping atau bahkan untuk pengganti Carrick yang sudah memasuki umur 32 tahun. Rumor yang paling santer beredar United sedang mengincar gelandang-gelandang top seperti gelandang yang sedang naik daun bersama Atletico Madrid, Koke dan gelandang Athletic Bilbao yang awal musim juga sempat jadi incaran United, yaitu Ander Hererra. Serta yang terbaru gelandang asal salah satu klub brasil bernama Everton Ribeiro. Yang jelas Moyes harus berusaha untuk mendapatkan tambahan amunisi dilini tengahnya bila ingin mengejar ketertinggalan dari rival-rivalnya yang mulai semakin meninggalkan United.

Well inilah analisis saya tentang solusi untuk perbaikan atas inkonsistensi performa dari United, terlepas dari badai cedera, sudah seharusnya tim seperti United memiliki skuat yang tidak hanya gemuk tetapi merata kualitasnya antar lini agar mengurangi ketergantungan kepada satu sosok pemain saja. Dan juga sepertinya Moyes masih mencari pola permainan yang dianggap cocok untuk tim, karena kerap kali memasang pemain yang sebelumnya bermain buruk tetapi cenderung dipaksakan, dan juga belajar mengambil keputusan yang saya rasa sudah cukup banyak melakukan kesalahan dalam pergantian pemain saat jalannya pertandingan dan juga kerap dikecam para fans United lainnya karena dianggap kerap bermain aman melawan tim-tim medioker saat sedang dalam posisi unggul dan bukannya 'kill the game' tanpa mengurangi tempo bermain.

Yang pasti fans United yang mulai mengikuti United dari jaman SAF mulai melatih, atau jamannya King Eric memimpin United merajai EPL ampe sosok Becks dan CR7 pasti merasakan kesedihan dan shock atas performa United yang benar-benar terbilang ancur menurut saya. Karena United tak pernah finish keluar dari 3besar semenjak EPL bergulir hingga musim lalu juara, mungkin musim ini kami para fans harus realistis akan target tim musim ini, yang saya rasa paling realistis adalah finish di posisi empat besar, atau minimal berlaga di Liga Eropa (amit-amit deh). Paling tidak United harus bisa mendapatkan atau memenangkan  satu trofi dari kejuaraan yang diikuti, seperti UCL, FA Cup atau yang paling mudah mungkin Piala Carling atau yang sekarang berganti nama menjadi Capital One Cup sebagai pemanis untuk para fans atas suramnya masa transisi musim ini. Yang namanya Popularitas didapat karena adanya penggemar, bahkan penggemar dadakan juga memberikan pengaruh. Yang namanya klub-klub besar tak bisa dilepas dari yang namanya para Pemburu Kejayaan atau 'Glory Hunter' atau, biasa disebut fans kabitan yang cendertung membela atau mendukung klubnya disaat menang dan berjaya, tetapi beralih atau berganti kelain hati dikala klubnya sedang terpuruk, seperti yang sedang dialami klub kesayangan saya saat ini. Biarlah yang karbit datang dan pergi, tapi yang ada harus tetap mendukung klub kesayangannya dalam suka maupun duka hehe. Saya tak ingin bersumpah atau membawa nama Tuhan dalam hal ini, tapi saya bisa pastikan bahwa hanya satu klub yang saya cintai kini dan nanti, yes MANCHESTER UNITED! U-N-I-T-E-D are the team for me! =D

We'll Keep The Red Flag Flying  High!

Cause Man United Will Never Die!
(# ` ∇´)ψ

0 komentar:

Posting Komentar